, ,

MERACIK BUMBU OPTIMISME ALA MILENIAL

MERACIK BUMBU OPTIMISME ALA MILENIAL

Kata Milenial lagi akrab nan terkenal akhir-akhir ini. Hampir setiap pergerakan atau produk melabeli kata Milenial, biar makin milenial katanya mah. Ah, bener gitu?. Sebenarnya apa arti Milenial itu? Ternyata masih banyak yang belom ngerti. Bahkan kaum Milenialnya sendiri.

Nah, sedikit dikupas makna dari Milenial menurut sumber dari Kominfo. Istilah Milenial berasal dari millennials yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya.

Millennial generation atau generasi Y juga akrab disebut generation me atau echo boomers.

Secara harfiah memang tidak ada demografi khusus dalam menentukan kelompok generasi yang satu ini.

Sekarang ini emang lagi boomz banget kata Milenial. Sayangnya popularitas nama Milenial kurang sejalan dengan semangat optimisme dalam memilih pemimpin Negeri masa depan. Karena bentar lagi Negeri kita bakal milih Presiden baru. Yups, Presiden baru, sang pemimpin pembawa pesan optimisme.

Kenapa perlu optimis? Sederhananya karena tanpa optimis tak akan ada energi untuk bergerak. Sumber energi bukan hanya dari asupan makanan saja namun dari hati dan fikiran yang mantap juga. Optimisme itu tidak dibangun atas dasar grasa-grusu, buru-buru atau asal tuan senang. Optimisme hadir karena pertimbangan matang dalam jiwa seorang negarawan sejati, sang pemimpin negeri.

Dia tidak lahir dari gegap gempita lensa instan berparas media. Berbalut kata-kata, membingkai memesona, memendar bak kunang-kunang. Dia lahir dari perjuangan tangguh menerpa angin dan badai. Menembus gelombang. Tak gentar walau dihadang. Tetap ikhlas meski kadang dibuat meradang.

Pemimpin optimis paham cara memilih jalan pintasan atau lewat jalan lokal. Setiap kebijakkan menjadi bukti yakin. Selalu menimbang dengan tenang, menakar dengan tegar dan mengukur dengan jujur.

Milenial harus tau membedakan calon pemimpin optimis otentik atau optimis hasil uji praktik. Setiap kata yang terucap dari pemimpin optimis adalah tanggung jawab bukan tanggung renteng. Tak juga asal ucap, apalagi sampai ucapan asal teruap. Miris memang, tapi jangan jadi gusar karna ini. Jiwa optimisme tak perlu khawatir.

Karena pemberi nilai sesungguhnya bukan dari mata makhluk bernama manusia. Ia hanyalah sosok lemah tak berdaya yang selalu butuh membutuhkan sesamanya. Alangkah pongah jikalau ia bersorak riang bak juragan dunia. Menepuk dada, berucap jasa. Membagi iba dan rasa. Seakan paling penting dijagat genting.

Ah, sudahlah tak perlu berbalas panjang lagi. Sekarang saatnya yakinkan diri, mantapkan memilih pemimpin optimis dengan bumbu-bumbu optimisme ala kita. Nah, biar makin sedap apa saja bumbu itu. Kuy, simak racikannya berikut ini.

Mulai dari pemimpin berjiwa optimis itu harus yakin dan gak mudah kagetan apalagi terkejut terheran-heran. Kalau sampe pemimpinnya latah, kan gawat inimah.

Pemimpin optimis itu mampu membagi beban, gak dipikul sendiri. Tidak berjalan demi kepentingan sendiri. Semua harus berjalan atas dasar kepentingan mereka (rakyat) bersama. Bisa menjadi solusi untuk bertahan saat masa-masa darurat juga bagian dari jiwa pemimpin optimis.

Selalu merawat antusias, anti baper dan bersikap menghentikan pemikiran negatif itulah pemimpin optimis. Membina cinta dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah kemampuan seorang pemimpin optimis.

Bukankah indah nian saat bisa bersama-sama bertandang dan berjuang membangun optimisme untuk Indonesia Menang. Bernaung dalam ukhuwah negara berdaulat, bermartabat, adil dan makmur. Inshallah.

#IndonesiaAdilMakmur
#IndonesiaMenang

 

Agung Syaputra

agung@kamiberani.or.id

Dewan Pengurus Nasional KamiBERANI

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *