, ,

Kaum Milenials Menentukan Nasib Indonesia di Tahun 2019

Kaum Milenials Menentukan Nasib Indonesia di Tahun 2019

Satu tahun yang lalu, seorang pemuda bercerita. Dia adalah tetangga saya di kampung halaman. Dia bercerita dengan menangis. Kemudian bercerita pahitnya menjadi buruh tani. Dia menceritakan, tenaga dikuras tapi upah masih belum cukup menghidupi diri dan keluarga di rumah. Bukan cuma itu, waktu istirahat yang disediakan hanya bisa digunakan untuk makan. Sementara untuk sholat, seringkali waktu tak mengijinkan. Cerita sahabat tadi hanya salah satu contoh sulitnya hidup di negeri ini. Banyak orang-orang di sekeliling saya yang mengeluhkan itu: masalah harga sembako semakin mahal, kebutuhan pokok tak terbeli tapi harga hasil kerja pertanian mereka semakin anjlok, biaya sekolah yang terancam tak terbayar, mencari kerjaan susah, panen terancam gagal, sampai pada hutang. Di tengah situasi ini, bagi mereka, pemerintah tak pernah terasa pertolongannya. Malahan yang terjadi sebaliknya, negara sengaja membiarkan penderitaan ini terus berlanjut. Pemerintah hanya berceloteh, mengklaim nama rakyat sana-sini, membenarkan kebijakan, namun hasilnya tak terasa di bawah.

Belakangan ini, cerita kepahitan hidup di negeri ini justru semakin menjadi-jadi. Lihatlah, ketenteraman warga kampung taman sari, Bandung dengan ekonomi, sosial dan budayanya harus digulung paksa. Di Papua, penyiksaan bahkan seolah menjadi hal yang lumrah. Di Kulonprogo, petani yang sudah manunggaling dengan tanahnya harus dipukul mundur oleh pemerintah jokowi demi melancarkan megaproyek Bandara Kulon Progo. Salim Kancil, petani yang berjuang untuk menyelamatkan alam di Lumajang, bahkan harus merenggang nyawa. Bisa jadi masih banyak kasus-kasus lain yang serupa tapi tak tersorot media. Yang ada hanya kabar baik untuk rakyat tentang keadaaan pemerintah sendiri.

Bukankah itu saja sudah cukup menjelaskan, betapa susah hidup di negara ini? Bertahan hidup memenuhi kebutuhan material sulit, sudah begitu ketika mempertanyakan dan menolak langsung dihajar. Tidak segan-segan, bukan hanya fisik yang dihajar. Seolah-olah yang melawan adalah musuh. Singkatnya, sudah sulit mendapatkan hidup, ketika menuntut segera dituduh menganggu stabilitas negara.

Namun, nampaknya, bagi sebagian kalangan ini belum menjadi fakta-fakta yang memuaskan dan menyadarkan. Ironinya, ini juga terjadi pada gerakan, terutama gerakan pemuda: masih banyak anggota gerakan pemuda yang bilang rakyat tak ditindas, rakyat sejahtera. Orang-orang seperti ini melihat ketertindasan sebagai suatu realitas yang harus mengaktual dan bisa dilihat secara kasat mata. Bagi aktivis-aktivis ini, buruh yang makan di McD dan KFC serta membeli handphone atau motor adalah buruh yang sejahtera, dengan demikian tidak pantas disebut tertindas. Apalagi jika sepeda motor kendaraan lebih mewah dari punyanya, maka semakin tak ada alasan untuk mengatakan rakyat itu tertindas.

Nalar seperti ini, sama saja dengan nalar penguasa penentu UMR dan kebijakan. sementara kader gerakan mahasiswa ataupun pemuda yang selalu berteriak menyuarakan rakyat juga seperti itu, kemudian pertanyaannya: pada siapa hidup sulit rakyat itu dicurahkan?

 

Jelas sekali, pandangan ini membuat semakin sulit saja hidup di negeri ini. Cari makan sulit, menuntut hak dihajar, ingin mencari pertolongan pada sang pahlawan muda, harus berbelas kasih terlebih dahulu supaya kaum muda bisa mengerti akan kondisi kehidupannya. Seharusnya kalian, para kaum muda, menyadarkan bahwa ada keterindasan dan mengajak untuk bersama melawan, bukan malah mencari pembenaran dan nyinyir.

Apa yang solusi yang diberikan pemerintah saat kondisi ekonomi sedang anjlok, lihat saja perkataan para Menteri Jokowi, perihal mengenai orang miskin diminta untuk diet dan tidak banyak makan, di utarakan oleh Puan Maharani, lalu Menteri Perdagangan pernah mengutarakan masyarakat untuk menanam cabai sendiri di rumah pada saat cabai merah menembus harga Rp. 90.000/kg. Impor dimana mana pada saat musim panen petani Indonesia tiba. Kemana kamu muda (milenials)?

Dalam hal ini, pemilihan umum akan diselenggarakan pada tanggal 9 April 2019. Gerakan menolak bodoh membawa arti penting untuk kesuksesan demokrasi di Indonesia, karena gerakan ini menjelaskan bahwa saat ini masih banyak warga negara terkhususnya kaum muda (milenials) yang hanya sekedar mengenal pemilu ataupun sistem demokrasi saja tanpa adanya pengenalan lebih dalam dan detail mengenai apa yang menjadi kewajiban dari setiap warga negara dalam menghadapi serangkaian proses pesta demokrasi ini bahkan banyak sekali yang tidak berpartisipasi (golput) dalam pesta demokrasi ini. Dengan demikian, kita harus berhenti bisu yang bermaksud agar kita menyuarakan apa yang perlu disuarakan, baik itu mengenai hak kita ataupun mengenai kinerja pemerintah yang sedang  berkuasa. Berhenti tuli yang memiliki maksud bahwa kita sebagai warga negara mulai saat ini untuk aktif mengkritik mengenai kebijakan pemerintahan yang tidak pro terhadap rakyat dan yang terakhir, berhenti buta artinya yaitu warga negara yang sebelumnya masih apatis terhadap apa yang ada disekelilingnya diajak untuk lebih aktif lagi terhadap segala fenomena yang terlihat dan memberanikan diri untuk menindaklanjuti fenomena tersebut.

Kaum muda mempunyai semangat untuk berjuang dan berubah. Menentukan nasib negara ini menjadi sejahtera. Kita mempunyai tekad dan niat untuk berkontribusi memperbaiki nasib bangsa saat ini mulai dari kesejahteraan, pendidikan, harga harga terjangkau, menciptakan lapangan pekerjaan, keadilan bagi semua warga negara, keamanan dan yang lainnya. Namun saya yakin, kaum muda (milenials) secara nurani melihat kondisi negara saat ini semakin menurun, baik dalam ekonomi, hukum, budaya, pendidikan, politik dan lingkungan hidup. Lalu bagaimana kita harus berkontribusi untuk merubah itu semua?. Dengan melihat secara objektif calon Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia saat ini lalu mendukung calon Presiden dan Wakil Presiden yang kita pilih nanti di tanggal tanggal 9 April 2019. Kita memilih bukan karena satu daerah, satu keturunan, satu organisasi apalagi ketika alasan kita memilih karena telah diberi uang. Jika seperti itu, kita tinggal menunggu kehancuran masa depan negara ini. Pilihlah calon yang mempunyai visi misi sesuai dengan kondisi negara saat ini. Yaitu masalah ekonomi, kesejahteraan petani dan buruh, stabilitas harga sembako, pemerataan hukum yang adil dan transparan dan lain sebagainya. Yakinlah tanpa ragu, semua solusi permasalahan negara saat ini ada dalam visi misi dan kepemimpinan PRABOWO – SANDI. Kaum muda (milenials) harus berani untuk memilih demi menyelamatkan negara Indonesia saat ini. Keberanian yang baik akan berakhir dengan nasib yang baik. Adil makmur untuk kita semua di tahun 2019. Aamiin

Moch Muhram Fauzi (Humas dan Media DPN KamiBERANI)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *